Reiza Rahmadi

Pelan Itu Memperkaya Waktu

Tinggal dan dibesarkan di Jakarta (sejujurnya lebih tepatnya Tangerang Selatan) membuatku hanya tahu semua hal itu harus cepat. Mulai dari makanan sampai informasi, semuanya cepat. Saat GO-FOOD baru akan sampai 45 menit lagi, aku kelaparan. Suatu pagi BlueBird Online telat 1 menit, aku telepon. Sewaktu aku sadar Astro gagal mempertahankan janji #Past15ampai, aku marah. Kota ini, atau bahkan seisi dunia, memang dirancang untuk menjadi cepat. Yang cepat dia yang dapat. Yang terdepan dia yang menang.

Kendati kecepatan maksimal tersebut, apakah ada ruang untuk bergerak pelan? Makin ke sini aku malah melihat diriku sebagai seorang yang “pelan”. Memang aku tidak pernah dinilai cepat oleh orang lain. Kecuali sewaktu SD. Nilai Penjaskesku tertinggi karena lariku tercepat sekelas. Tapi lainnya? Aku sangat suka dengan pagi yang lambat. Aku mulai menyukai bergerak di ruas tol dengan kecepatan 80 km/jam. Aku juga sering menggunakan akhir pekan untuk tidak melakukan apa-apa. Aku suka dengan pelan. Hal itu membuatku lebih bisa merasakan. Aku jadi mempertanyakan diriku, apakah kesukaanku dengan pelan karena adanya ruang jeda untuk diresapi? Bayangkan daging ungkep: makin lama direndam, makin enak rasanya. Sama seperti pikiran dan perasaan. Jika diproses lebih lambat, bukankah akan lebih kaya akan makna?

Ada alasan kenapa aku pernah merenungkan soal melambat cukup lama. Aku telah lama menyadari kalau dunia sosialku cukup berpolarisasi. Ada dunia riset dan bisnis. Lalu ada dunia kreatif dan seni. Walaupun begitu, aku merasa beruntung untuk bisa berada di beberapa lingkaran pertemanan sekaligus. Sebuah sisi dapat membuatku menjadi lebih rasional dan pintar. Di sisi satunya ada yang mampu menanam seni dan kreasinya agar aku melatih rasa. Cukup lama sebelum aku menyadari hidup di dua “alam” yang bersebrangan ini terasa menyesakkan karena banyaknya informasi yang bertubrukan dan saling tindih. Adalah tantanganku untuk mencerna pengertian dari semua hal yang aku lihat, dengar dan rasakan. Karena yang aku percayai dari sini: kesatuannya menjadi lebih besar dari gabungan kedua sisinya.

Menjajarkan banyak hal di hidup, yang rasanya tidak memiliki kaitan satu sama lainnya, membutuhkan pendekatan yang tidak akan ada polanya. Ada yang jajarannya datang dari mengobrol, menggambar atau menulis. Namun yang terakhir, menulis untuk mendokumentasikan pengalaman berpikir, membantuku untuk mengolah otak dan rasa. Saat aku menulis panjang seperti ini, aku dipaksa untuk berasional dan berekspresi di waktu yang serempak. Kosakata, adalah satu-satunya limitasi. Untuk itu menulis adalah untuk berpelan. Dengan memelankan pikiran ke kecepatan tulis, bahasa mendorongku untuk bisa merasakan rasional serta mengelaborasikan estetikanya. Mungkin dengan waktu yang ada, jika aku makin handal menulis, aku makin bisa menggabungkan keduanya. Tidak terkecuali lingkaran sosial itu sendiri.

Tentunya cepat akan selalu dibutuhkan dalam ruang aksi. GO-FOOD, BlueBird dan Astro tetap harus sigap, tanggap dan gesit saat bergerak. Namun cepat tidak dapat menggeser keberadaan pelan yang selalu dibutuhkan dalam ruang-ruangnya sendiri. Hal seperti memproses, mencerna dan memahami, selalu butuh ruang kontemplasi dan refleksi dengan disertai pelan; mereka diperkaya oleh waktu, bukan oleh kecepatan. Jika kamu membaca sampai titik ini, mungkin kita bisa sependapat: alih-alih digunakan untuk mencapai ke tujuannya, pelan lebih memilih dibutuhkan untuk memperkaya waktu yang ada. Toh semua akan ada akhirnya, kan?