Perjalanan Menulis
Sewaktu kuliah, aku memiliki sebuah Moleskine. Karena buku itu mahal, aku selalu bawa buku itu kemana saja untuk mencatat apapun: pelajaran, jurnal kilat atau ide apapun. Bahkan terkadang aku jadikan dompet karena ada pocket sleeve-nya. Isinya seacak itu. Tidak ada urutan, berantakan, apapun masuk. Tapi buku itu sampai sekarang masih aku simpan karena sangat indah.
Itu adalah buku catatan terakhir yang aku selesaikan. Setelah aku bekerja, aku tidak berhenti menulis. Alias menulis catatan kerja yang makin singkat, fungsional dan temporer. Buku catatan, bagiku saat itu–dan seperti kebanyakan orang lainnya, hanya kumpulan tulisan agar aku tidak lupa. “Catat, biar tidak lupa!” Begitu kan kata Ibu dan Bapak guru sedari dulu?
Menulis kembali
Literasi adalah salah satu pilar penting dalam pendidikan. Aku tidak bisa membahas pendidikan dalam konteks institusional. Namun dalam pandanganku pendidikan adalah hak semua orang dan adalah sebuah keseharusan seorang individu untuk membangun peradaban; pendidikan bertujuan untuk meraih kedaulatan yang dibutuhkan untuk mencapai titik tersebut. Berat, ya? Awalnya aku pikir begitu. Tapi dalam konteks yang dapat lebih mudah dimengerti: jadilah life-long learner! Sebagai seseorang yang lekat dengan industri yang mengharuskan kami untuk belajar, aku beraspirasi untuk menjadi orang yang seperti itu.
Setelah dijauhkan pekerjaan dari hal-hal yang bersifat baik dan mendasar inilah yang mencetuskan aku untuk tergerak membuat catatan lagi. Aku tidak punya Moleskine saat itu, tapi aku memiliki perangkat yang bisa mengakses Apple Notes. Mencatat di satu tempat, eh muncul juga di perangkatku yang lain. Aku juga mulai membuka kembali buku kosong yang memenuhi meja kerjaku. Dalam sesaat, keinginanku untuk menulis hal-hal yang random, candid dan apa adanya kembali muncul. Sampai tahun 2021, waktu itu membawaku ke arah yang sangat berbeda.
Productively procrastinating
TextEdit, Notion, Obsidian, Logseq, Bear App, dst. Itu adalah alat-alat yang aku pakai saat itu. Secara bersamaan maupun terpisah-pisah. Sangat memusingkan. Semuanya juga memiliki kesamaan: markdown compatibility. Aku suka dengan markdown karena dokumen itu sangat simpel, sederhana dan ringan. Jika kamu tidak tahu markdown itu apa: markdown adalah dokumen teks sederhana yang dapat diformat secara terbatas agar bisa lebih mudah dibaca. Format markdown (.md) berbeda dengan file text (.txt). Keuntungan markdown dapat membiarkan penulisnya membuat formatting rapi dalam tulisannya. Hal ini yang membuatku lebih senang memakainya ketimbang file dengan format rumit semacam Google Docs, Microsoft Word, Apple Pages, dll.
Namun untuk bisa merasakan hal ini, aku telah berjalan melalui banyak jalur yang menyesatkan. Yang paling memalukan adalah terjebak dalam siklus “produktif untuk menunda”, alias membuat fokus pada sistemnya, bukan tulisannya. Pertanyaanku di saat itu? Banyak. Beberapanya:
- Bagaimana catatanku bisa mudah dicari dari tabel tertentu?
- Bagaimana agar hal ini jadi otomatis?
- Bagaimana dengan mudah bisa membuat korelasi antar catatan?
- Apa koleksi tag yang harus aku gunakan?
- Struktur folder mana yang bisa membuat lebih produktif?
Sejujurnya, saat aku menuliskan semua pertanyaan di atas terasa sangat bodoh dan memalukan. Aku pernah terjebak berbulan-bulan hanya untuk memikirkan itu semua. Tulisanku menjadi sedikit. Waktu menulis lebih banyak dipakai produktif untuk membuat sistem. Alhasil menunda tulisanku sendiri. Kondisi ini bertahan cukup lama. Sesampainya di akhir tahun 2023, aku tidak hanya sadar tapi juga berhasil keluar dari lubang jahat dunia “produktivitas” tersebut (kepada puluhan productivity guru di YouTube, kalian adalah salesperson, bukan guru!). Keputusan terbaikku saat itu adalah membeli Figure Notes. Sebuah buku catatan kompak yang menyerupai Traveler’s Notebook ukuran passport. Sampai detik tulisan ini ditulis, aku masih menggunakan Figure Notes setiap harinya.
Kehadiran fountain pen
Figure Notes membantuku memisah kompartmen pemikiran karena bentuknya yang dapat membawa 2-3 buku sekaligus. Ada yang aku pakai untuk catatan temporer harian (daily notes), ada juga yang aku pakai untuk mencatat ide kilat. Terkadang aku bawa juga buku ketiga yang isinya jurnal harian, tapi saat ini sudah aku ubah bentuknya jadi email (hal ini bisa aku bahas lain kali). Karena setup ini sangat bekerja buatku, alat tulis yang aku gunakan setiap hari tanpa sadar menjadi bagian hidup yang sangat penting.
Ini adalah prinsip dasar: jika kamu senang dan rutin melakukannya, pakailah alat-alat terbaik yang bisa kamu dapatkan. Opiniku tetap sama, fountain pen tidak untuk semua orang. Namun aku yakin saat aku berkata, “kalau dulu gak beli ini, hidupku sepertinya sangat berbeda,” sama sekali tidak salah. Lebay? Sedikit. Romantisasi? Iya. Untuk mengerti apa yang membuat perbedaan signifikan tersebut, aku jabarkan di bawah.
Pengalaman menulis yang signifikan
Kita mulai dari hal yang paling remeh tapi penting. Biasanya alasan ini ditaruh di akhir. Tapi akuilah, kita semua mau senang dan terlihat keren. Fountain pen, bukan hanya bagus desainnya, tapi pengalaman menulisnya juga kaya. Sebagai pengguna fountain pen, kesenangan terbesarku datang dari jumlah tinta yang berbeda-beda ragam dan warnanya. Warnanya dalam dan, untuk beberapa tinta, menghasilkan kilau (sheen) yang menarik. Salah satu tinta yang aku miliki adalah Taccia Hokusai-sabimidori. Kalau sebentar melihat di tulisan tipis, ya hanya hijau. Tapi jika diperhatikan ada warna tembaga yang muncul di bagian ketebalan tertentu. Keren, kan?
Sebagian orang juga dapat mengkritik kerepotan fountain pen yang terbesar adalah tembus pada sembarang kertas tipis. Hal ini benar, tapi aku justru melihat kekurangan ini merupakan peluang untuk memilih buku dengan bijak. Saat kita meluangkan waktu cukup lama untuk memilih sesuatu, justru komitmen itu muncul. Buktinya? Aku telah menghabiskan lebih banyak buku catatan dari 2023-2024 dibandingkan 2015-2021. Apakah ini sebuah pencapaian produktivitas? Pastinya bukan. Tapi apakah menyenangkan? Bagiku pasti.
Memudahkan sesi menulis panjang
Argumen terbesarnya adalah menulis panjang lebih baik dengan mengetik. Namun aku memberanikan diri untuk membuat pembatas besar antara menulis dan mengetik. Keduanya menghasilkan pengaruh yang berbeda. Sudah banyak studi spesifik di dalam kondisi belajar yang melakukan perbandingan antar keduanya. Walaupun begitu, aku beropini tidak ada yang lebih baik. Ada pengaruh preferensi, akses kecepatan dan konteks yang bisa selalu berubah-ubah.
Namun untuk hal ini, mari kita bandingkan fountain pen dengan tugas utama semua alat tulis: ya, menulis. Di lain sisi aku masih menulis tangan karena membangun retensi ingatan yang lebih baik–karena lebih lambat dan memaksaku lebih selektif dengan bahasa sendiri. Tapi dengan fountain pen, menulis akan jauh lebih dimudahkan karena dua hal: ringan dan responsif. Buat sebagian orang yang belum pernah menggunakan fountain pen mudah mengira pena tersebut berat–seperti ballpoint Mont Blanc. Hal itu bukan faktanya. Justru sangat ringan. Ujung (nib) fountain pen juga didesain untuk sangat responsif, membuat penulis tidak perlu menghasilkan tekanan yang dapat membebankan tangannya. Aku sendiri lebih betah menulis karena tidak capek. Palingan lebih capek duduknya ketimbang nulisnya.
Komitmen untuk menulis dan berliterasi
Kalau poin pertama aku membicarakan tentang waktu yang dipakai dapat menghasilkan komitmen lebih, di sini adalah persamaannya–waktu adalah uang. Investasi ke dalam dunia fountain pen tidak murah. LAMY Safari, entry point mereknya, bisa didapatkan mulai dari Rp500,000. Walaupun ada merek yang lebih aksesibel seperti Jinhao. Tapi tetap saja harganya mulai di kisaran Rp80,000-100,000. Buat sebuah pena, kita terbiasa melihat yang di bawah Rp10,000. Bahkan di atas Rp20,000 aja udah terasa mahal banget.
Namun komitmen investasi ini yang membuatku jadi malu kalau keren hanya dimuat sebatas gaya. Memang terkesan terlalu kritis. Menurutku keren adalah melakukan tindakan literasinya itu sendiri: menulis dan membaca. Kegiatan intelektual ini– setidaknya yang aku percayai–dapat membuatku menjadi individu yang lebih baik. Karena menulis, aku jadi berpikir. Karena berpikir, aku membutuhkan jawaban. Karena ada dorongan untuk menjawab, aku mencari referensi lebih banyak. Lalu aku tuliskan kembali dengan bahasaku.
Independent thinker
Tahun lalu (2024) aku mencoba membuat blog. Namun aku rasa masih ada kesalahan dari caraku berpikir. Saat itu aku melihat halaman pribadi adalah produk dari gabungan kumpulan catatan. Menurutku cukup sulit untuk dibentuk seperti itu. Sekarang sejujurnya aku tidak begitu peduli. Sudah banyak catatan yang aku bentuk. Aku bisa gabungkan dengan kepalaku sendiri. Yang penting aku tulis aja. Setiap post yang kamu baca saat ini adalah hasil pikiran yang aku ketik langsung dengan mengingat dan mereferensikan ke catatan lamaku.
Masih banyak yang bisa aku lakukan di halaman ini. Halaman ini sendiri juga dikembangkan menggunakan Jekyll dengan disimpan di GitHub, dua hal yang aku baru saja pelajari seminggu ini. Pastinya tidak sempurna. Karena itu bukan poinnya. Dengan memulai situs ini (Baca juga alasan membuat ini), aku dapat melihat ujung dari pengalamanku yang “tersesat”, menghabiskan cukup waktu dan uang untuk alat tulis serta mempelajari membangun halaman kecil. Semuanya adalah kulminasi versi diriku untuk mencapai kedaulatannya sendiri. An independent thinker, begitu kata kerennya. Ya, tapi emang keren sih.