Alasan Membuat Ini
Untuk menulis adalah untuk berpikir.
Entah aku dapatkan kalimat itu dari sebuah bacaan. Menulis sudah lama menjadi hal yang melekat. Terutama 2-3 tahun belakangan ini. Aku mulai menulis lagi di buku catatan–sebuah investasi yang tidak murah jika ingin punya rasa kesenangannya–setelah bertahun-tahun tidak pernah menghabiskan satupun buku catatan yang pernah aku beli. Dari hal ini, aku kenal dengan dunia pena (fountain pen), kertas yang otomatis lebih mahal (karena tinta pena suka tembus di kertas ehem murah), dan juga buku-buku merek import yang lebih mahal.
Setelah ribuan hari menulis, tumbuhlah ribuan catatan. Ratusan halaman telah diisi, begitu juga dengan ratusan file markdown tercipta. Suatu hari aku berkontemplasi, “lalu buat apa semua catatan ini?”, sebuah pertanyaan yang aku renungkan cukup lama. Rasanya banyak pemikiran yang terbuahkan tapi tidak pernah dilahirkan. Perjalananku yang pernah aku tempuh saat mempelajari productivity tools ini sedikit banyaknya membuatku mengerti untuk sampai di sini.
Dengan menyukai dunia tersebut membuatku terpapar dengan blog independen yang menarik. Salah satunya justru kerabat kerjaku sesaat di Somia CX, Fri Rasyidi (mohon untuk cek halamannya, banyak bacaan menarik di situ), menginspirasiku untuk bergerak dan membuat halaman kecil ini. Tentu dia bukanlah satu-satunya menginspirasiku untuk menulis. Ada juga teman-teman lain menulis di Medium dan juga Substack. Tapi karena kami suka mengobrol dan membahas banyak hal–yang banyakannya adalah debat perihal topik simpang siur yang justru membanggakan untuk tidak dituliskan, menuliskan pemikiran di halaman pribadi yang publik malah terasa membebaskan. Tulisan, di lain sisi, mendorong aku untuk bisa membuat pemikiran lebih simpel. Karena harus bisa mudah dimengerti.
Alasan kuat lainnya terletak pada cepatnya edaran informasi. Sesuatu yang “cepat” sering dikaitkan dengan lebih baik. Media sosial sungguh piawai dalam memberikan ruang bagi informasi dan berita untuk terbang begitu gesit. Begitu juga dengan update hidup orang-orang. Baru saja ada yang sampai luar negeri, eh sebelum dia cerita, aku udah punya prediksi cerita perjalanannya. Tentu ini bukan hal buruk, dan bukannya aku mau menjadi hipster dengan asal milih jalan lain dari pada yang lain dengan bikin halaman ini. Justru aku malah membutuhkan tempat pribadi dengan membentuk kuil pikiran dan perasaanku sendiri. Tidak ada norma yang harus aku ikuti di sini (contoh: bikin Instagram story yang gak norak) serta mengurangi bias dari dunia sosialku sendiri.
Halaman ini didedikasikan untuk merenung dan berpikir. Jika aku sedang bepergian ke luar negeri, kamu tidak bisa lihat update aku lagi mau pamer makan apa di sini. Itu akan diserahkan ke medium yang paling tepat (baca: Instagram). Malahan yang akan aku tuliskan adalah pikiran yang sudah direfleksikan melalui kontemplasi-kontemplasi sporadis sebelumnya. Bukankah reduksi kecepatan itu malah menjadikan kita, walau sedikitnya saja, menjadi lebih dalam? Aku mau itu. Dan jika kamu mau merespon tulisan ini, kita bisa pakai teknologi yang lebih “kuno”: kpd@reizarahmadi.com. Itu alamat emailku.